Buku ini lahir dari pemikiran-pemikiran yang telah lama bergayut di dalam diri penulis, lalu diutarakan secara lugas dan bersahaja, sehingga tanpa terasa menyedot hati pembaca. Walaupun bernada santai dan “ngepop”, buku ini tetap dapat menjadi sangat serius ketika teks-teks Alkitab didalami kembali dalam kelompok PA maupun pengayaan pemahaman KTB. Di sinilah judul The Collision menjadi sangat menarik untuk dimengerti secara mendalam. Jika dibandingkan dengan kata-kata “tetangganya” seperti encounter dan meet (with Jesus), sudah banyak buku populer yang lebih dahulu terbit, misalnya Encounters with Jesus karya Timothy Keller sebagai buku pemuridan teologis, dan sebelumnya Marcus Borg melalui Meeting Jesus Again for the First Time sebagai karya yang cukup dikenal di kalangan akademis. Namun saya juga menyadari bahwa kata collision dapat dipelesetkan menjadi collusion, yang berarti persepakatan rahasia yang jahat, atau bahkan coalition dalam arti persekutuan politis.
Kata collision di sini menunjuk pada suatu momentum pertemuan yang terus-menerus berdampak dalam proses benturan yang progresif: benturan ide, keinginan, arah hidup, dan keberadaan seseorang, sebagaimana yang terjadi pada murid-murid Yesus. Sedangkan encounter lebih menunjuk pada pertemuan yang mengguncang melalui pertanyaan darurat, walaupun jawabannya belum tentu diterima sepenuhnya, namun tetap meninggalkan dampak positif dalam praktik kehidupan, seperti pada Nikodemus. Adapun meet adalah pertemuan informal yang mungkin hanya bersifat artifisial dan kurang berdampak mendalam bagi kehidupan. Menurut saya, di sinilah diksi judul dari penulis menjadi penting: agar kita, para Kristen nominal, tersentak untuk kembali menerima panggilan menjadi murid Yesus.
| Karya | Sadana Eka (Nama Pena) |
| ISBN | |
| Penerbit | PT Media Penerbit Indonesia |
| Halaman | IX + 173 |
| Harga | 95.000 |



Reviews
There are no reviews yet.