Deni Nursamsi, menempuh seluruh jenjang akademiknya dalam bidang Pendidikan Islam, sebuah jalur panjang yang justru membuatnya semakin sadar bahwa memahami agama tidak cukup hanya dengan menghafal apa yang pernah dikatakan para pendahulu—tetapi juga berani mempertanyakan bagaimana manusia modern, dengan segala kegelisahannya, terus-menerus menciptakan “tuhan-tuhan baru” dalam bentuk sistem, ideologi, dan kini: kecerdasan buatan.
Ketertarikannya pada filsafat, psikologi, politik, dan agama bukan sekadar hobi akademik, tetapi cara untuk membongkar ilusi-ilusi halus yang selama ini kita anggap wajar. Baginya, manusia adalah makhluk yang ahli membuat simbol dan lebih ahli lagi diperbudak oleh simbolnya sendiri.
Di tengah gelombang percepatan teknologi, penulis menaruh perhatian serius pada ICT dan AI—bukan karena ia takut manusia akan kalah dari mesin, tetapi karena manusia sering kalah dari dirinya sendiri. Dari kegelisahan itu lahirlah gagasan AI-Theisme, sebuah upaya untuk menertawakan sekaligus mengkritisi kecenderungan manusia menyembah ciptaannya, lalu panik ketika ciptaannya mulai meniru cara pikirnya.
Sebagai pendidik, penulis terbiasa berhadapan dengan generasi muda yang bergerak cepat namun sering kehilangan arah. Sebagai pengamat sosial, ia melihat masyarakat yang gemar mencari kepastian, tetapi justru paling rentan terhadap mitos-mitos modern. Dan sebagai penulis, ia memilih untuk tidak berpura-pura seolah dunia sedang baik-baik saja.
Buku ini adalah undangan untuk melihat kenyataan dengan mata terbuka—tanpa romantisme berlebihan, tanpa kepanikan murahan. Sebuah ajakan untuk berpikir lebih tajam, lebih jujur, dan lebih berani menertawakan diri sendiri sebelum kita menertawakan teknologi yang kita ciptakan.
| Pengarang | 1.Deni Nursamsi |
| ISBN | xii + 115 hlm |
| Penerbit | PT Media Penerbit Indonesia |
| Halaman | Viii + 151 hlm |
| Harga | 95.000 |



Reviews
There are no reviews yet.