Setiap kali orang berbicara dalam percakapan mengenai standar etika, nilai kearifan dan budaya tinggi, tokoh kita ini selalu menyembul sebagai tema utama diantara  deret figur lokal lainnya. Dalam perencanaan menulis Lopa, meja kerja yang penuh sesak buku-buku, laman internet yang kaya, dan tumpukan dokumen yang pinggirannya rapuh seperti menjelma ingatan kolektif pada dunia hukum Indonesia. Di tengah kekacauan itulah kegelisahan mengeras dan menjadi pertanyaan yang tak bisa dihindari. Bagaimana menulis tentang kejujuran yang nyata, ketika realitas hari ini justru dipenuhi simulasi kejujuran? Buku ini tidak lahir dari hasrat akademik penulis semata, melainkan oleh kegelisahan moral yang terus-menerus mengusik. Bertahun-tahun mengamati politik, dan hukum Indonesia membuat kita sampai pada satu kesimpulan getir, kata integritas semakin sering diucapkan justru ketika  semakin jarang dipraktikkan.  Keberanian selalu lantang dipamerkan, tetapi seperti jalan sunyi dalam hingar bingar ruang keputusan. Dalam lanskap itulah buku Profesor Dr. Baharuddin Lopa: Manusia Mandar ini hadir bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai koreksi moralitas.

Pencarian terhadap sosok Lopa tidak saya mulai dari arsip negara yang steril dan resmi, tetapi dari sudut pandang kearifan Orang Mandar tempat wataknya ditempa sebelum jabatan disandangnya. Dari sana saya memahami bahwa untuk membaca Lopa sebagai Jaksa Agung, kita harus terlebih dahulu mengenalnya sebagai anak muda Mandar. Dunia pelaut yang dekat pada nadinya mengajarkan satu hukum dasar bahwa badai bukan kemungkinan, melainkan keniscayaan. Yang membuat passombal selamat dan karam bukan soal keberuntungan, tetapi keteguhan memegang keyakinan sebagai kompas kehidupannya.

Karya Adi Arwan Alimin
ISBN
Penerbit PT Media Penerbit Indonesia
Halaman XIV + 189
Harga 95.000